If I Could, I Would Love You Too (2)

 



"Why would you pour so much of yourself into something that will never last?" she whispered, her voice trembling between doubt and sorrow. His kindness, his respect, his unwavering devotion; none of it could ever change her heart.

He looked at her with a quiet ache and answered softly,
"Because you deserve every ounce of me, even when I know we were never meant to be. You deserve the best of my ruins."

***

Penutup terbaik dari kisah-kisah ajaib adalah bercakap-cakap. Termasuk menuang banyak kenang di dalamnya.

***

Aku ingat sekali saat itu aku dan Farhan sedang mengunjungi museum seni. Tempat sunyi dengan langkah-langkah kaku yang bergema di lantai marmer. Menunggu percakapan panjang kami yang tertunda berbulan-bulan. Membelai hening di antara dua orang yang sudah terlalu lama saling mengenal.

Kami terhenti di depan lukisan berbingkai kayu, menampilkan seseorang yang hidup di dalam gelembung bening. Di luar gelembung itu, banyak orang lain berjalan, menatap, bahkan sesekali menyentuh permukaannya. Tapi gelembung itu tidak pecah. Tidak pernah.

“Na,” suara Farhan memecah hening, lembut.
“Kamu tahu nggak kenapa kamu susah banget jatuh hati?”

Aku menoleh, mencoba memahami arah pertanyaannya. Farhan jarang membahas hal-hal seperti ini. Kami rajin berdebat tentang film, kopi, cuaca, buku bekas, musik, lukisan, makanan, politik atau apapun selain perasaan. Tapi kali ini, nada suaranya berbeda. Seperti sedang menunggu jawaban yang sungguh-sungguh.

Aku menghela napas. “Um, kenapa ya. Mungkin emang aku nggak tahu gimana caranya.”

Farhan tidak menimpali. Ia hanya menatap lukisan tadi, lalu menunjuk ke arah manusia di dalam gelembung.
“Kamu seperti dia,” ujarnya pelan.
“Kamu ramah, terbuka, selalu menyapa semua orang dengan hangat. Tapi, di balik itu, kamu sebenarnya sedang membuat batas. Orang-orang bisa mendekat, tapi tidak pernah benar-benar bisa masuk.”

Aku terdiam. Ia melanjutkan,
“Kamu terlalu teman-coded banget, Na. Sampai orang-orang yang sebenarnya ingin lebih, kehilangan keberanian untuk melangkah. Kamu ahlinya nge-friendzone orang.”

Aku tertawa kecil, kali ini benar-benar karena geli. “Bukankah memang seharusnya begitu? Tidakkah berteman saja sudah cukup?”

Kulirik raut wajahnya, ia tersenyum sendu. Matanya tidak ikut tersenyum seperti biasanya.

Bagiku tidak cukup, Na,” katanya lirih.

Kalimat itu menggantung di udara, menembus gelembung imajiner yang selama ini kujaga rapat.

***

Kami tetap berdiri di depan lukisan itu, lama. Seolah masing-masing sedang berbicara dalam kepala sendiri. Ada jeda panjang di antara napas kami, beruntungnya, keheningan seperti ini tidak pernah membuat kami canggung.

Farhan akhirnya bersuara lagi, suaranya pelan, nyaris seperti gumaman.
“Selain seperti lukisan itu, kamu tahu tidak alasan lainnya?”

Aku menoleh perlahan. “Apa lagi?” tanyaku sambil tersenyum samar. Ia tidak langsung menjawab, membuatku bertanya lagi, “Apakah kita sedang bermain tebak-tebakan dengan aku sebagai sumbernya?”

Farhan tertawa kecil.

“Kamu itu anak pertama, Na,” ucapnya akhirnya. “Kamu terlalu mendalami jiwa itu. Kamu terbiasa merawat, menjaga, memastikan semua orang baik-baik saja. Jadi, di setiap hubungan, kamu selalu jadi ‘kakak’. Kamu memberi, kamu menenangkan, kamu mengerti. Tapi di saat yang sama… kamu jarang membiarkan dirimu dijaga.”

Aku terdiam.

Farhan melanjutkan, suaranya kini nyaris berbisik,
“Kadang orang yang ingin mencintaimu malah merasa kamu sudah cukup kuat tanpa mereka. Padahal mungkin kamu juga ingin dicintai, ya, Na?” Kalimat terakhir Farhan terdengar seperti ia menawarkan diri, kesekian kalinya.

Aku tidak menjawab.
Hanya menatap lukisan itu lagi, si manusia dalam gelembung bening yang terlihat begitu damai. Ia bebas melakukan apapun, tanpa terganggu oleh tangan-tangan lain. Ia leluasa kemanapun, tanpa khawatir diusik kaki-kaki lain.

Barangkali cinta di luar zona pertemanan memang belum terlalu cocok untukku. Bisikku pada diri sendiri.

"Kamu luar biasa sekali, Han. Kamu pandai menyelipkan kejujuran di bahasa-bahasa tersirat tadi."

Terima kasih.

Farhan terkekeh, lalu menjulurkan tangan kanannya, sebatang bunga lili kuning di genggamannya. "Sudah kuduga, bertingkah memelas di hadapanmu ternyata tetap tidak mempan, ya?"

Kami tertawa, kali ini benar-benar tawa yang lega.

Komentar