Pidato dan Reputasi

Belakangan kita kerap membaca berita buruk. Harga-harga pangan naik, pengangguran di mana-mana, daya beli masyarakat merosot, kemiskinan menjamur, pendidikan amburadul, dan generasi muda mulai merasa bahwa hidup mereka lebih cocok jadi bahan meme ketimbang memberi harapan. Kabar-kabar soal kejanggalan putusan hakim, kematian orang berpengaruh yang tengah mendampingi isu penting, dan penangkapan pelaku politik dengan dugaan korupsi menyebar di mana-mana. Namun dari istana, sepertinya kericuhan-kericuhan itu seolah tidak terdengar.

Ditengah-tengah kabar kemelaratan, kegelisahan, amarah, dan protes dari rakyat, presiden justru tampil gagah dengan orasi-orasi angkuh; penuh pujian terhadap diri sendiri. Katanya Indonesia merupakan negara dengan kekuatan ekonomi besar. Katanya, Indonesia sedang berjalan menuju kejayaan global. “Semua akan makan gratis pada waktunya.”

Terasa terlalu muluk-muluk. Disaat rakyatnya harus berhadapan dengan beras mahal, eh, ternyata oplosan, segala sektor kena pajak, kesulitan mencari kerja namun hanya dinasihati “jangan kufur” oleh mentrinya, berprotes soal penulisan sejarah yang mencurigakan dituduh “menggunjing”, dan berbagai blunder, omon-omon penyulut amarah.

Berdasarkan pidato-pidatonya Tuan Prabowo seperti tengah hidup di Indonesia namun pada dimensi yang berbeda dengan rakyatnya. Pidatonya selalu tenang. Kenaikan pengangguran ditanggapi sebagai optimisme pembangunan. Keluhan rakyat hanya diredakan dengan narasi-narasi nasionalisme tanpa penyelesaian yang konkret.

Namun sebelum terlalu jauh kita mengkritisi betapa uniknya pidato Bapak Presiden, kita perlu menyadari bahwa pidato-pidato tersebut tidak sepenuhnya hasil dari pemikiran beliau. Ada tangan-tangan lain yang turut merancang naskah pidatonya. Para juru tulis kepresidenan. Yakni mereka yang bertugas menyalurkan data-data lapangan dan suara rakyat dalam teks-teks yang akan dibaca oleh presiden.

Agar presiden relevan dengan yang ia pimpin.

Agar presiden terhubung dengan rakyatnya.

Namun masalahnya, para juru tulis ini sepertinya ahli sulap. Derita rakyat dinarasikan sebagai prestasi dan merahasiakan kegagalan dalam jargon-jargon palsu. Hingga derita dan kegagalan itu terlewat dari presbiopi presiden.

Tidakkah rasa empati mereka masih hidup? Pidato -khususnya oleh presiden- bukanlah sekadar ritual pelengkap. Kalimat yang keluar dari bibir presiden adalah cermin dari bagaimana ia memahami rakyatnya. Bisakah presiden membaca kesengsaraan ataukah hanya peduli dengan keperkasaan kekuasaannya? Bisakah presiden memahami obor keadilan ataukah hanya hirau dengan betapa gagahnya otoritasnya? Sayangnya, cermin itu terlalu berkabut karena penulis di balik podium menutupinya dengan gombal-gombal optimisme kacangan.

Sepertinya para juru tulis itu mengira bahwa rakyat sudah terlalu sibuk dengan kesengsaraan sehingga tidak lagi berenergi menelaah muslihat-muslihat mereka.

Sayangnya mereka salah bidikan.

Naskah-naskah yang lahir dari ketidakpedulian mereka itu justru memperburuk citra pembacanya; sang presiden. Reputasi presiden dipertaruhkan. Perkataan-perkataan presiden rasanya seperti perkataan yang keluar dari katak dalam tempurung, tidak tahu apa-apa. Hingga yang diterima rakyat adalah rasa keangkuhan, tinggi hati, ketidakpedulian, dan angan-angan palsu.

Bukankah memalukan jika ketidakpekaan juru tulis, berimbas pada pamor pemimpin?

Sebaik-baik juru tulis adalah yang menulis dengan hati terbuka dan memiliki keberanian untuk mendengarkan pekikan rakyat kecil. Dan rakyat kecil itu tidak butuh pidato puitis dan pernyataan defensif dari pemimpinnya. Mereka lebih butuh jiwa besar pemimpin untuk mengakui kegagalannya, berucap maaf, lalu memberikan solusi nyata.

Komentar