Sepertinya, ia masih terjebak di era 90-an
Ungkapannya, pidatonya, dan pemikiran-pemikirannya
Indonesia sekarang ini, lebih mencemaskan dari itu semua
Dan presiden kita, gagal melihat itu
Baru sebait kubaca tulisan Farhan, jantungku berdebar-debar.
TIDAK, bukan karena cinta. Tapi khawatir.
Menulis tentang negara, pejabat, isu politik, kritik sosial, dan kecemasan perihal pemerintahan di bulan-bulan ini rasanya lebih menyakitkan dari jatuh hati. Tidak diungkapkan akan menjadi bencana, namun jika dipublikasikan bisa bertaruh nyawa.
Dan sudah banyak contohnya.
"Ini sudah versi paling halus, lho." Farhan mengetuk pelan meja, "Amanlah."
Aku tahu, dia ingin membuyarkan kegelisahanku. Tapi Tuan, kali ini tidak sesederhana itu.
"Memang, ini versi halus. Sangat-sangat-sangat-sangat halus. Tapi tidak seperti dirimu yang biasanya."
Pengumbar janji
Pecundang politik
Pemerkosa hukum
Kriminal berdasi
Tikus-tikus di kursi dewan
Biasanya Farhan akan memilih diksi-diksi itu, atau lebih parah.
Kali ini frasa-frasanya luar biasa tumpul, sarat kehati-hatian.
"Oke, aku simpan dulu. Barangkali nanti bisa kita rilis kapan-kapan." Farhan bernapas lega.
"Jangan kapan-kapan, malam ini saja. Toh kamu juga selalu bersembunyi di balik namaku saat mengkritik mereka." Aku hanya tertawa, lalu mengeklik publikasikan.
Dan begitulah, tulisan ini tiba di beranda kalian...

Komentar
Posting Komentar