Tulisan hari ini berangkat dari kegelisahan pribadi penulis tentang pendidikan, guru, mahasiswa pendidikan, dan kecerdasan buatan. Jadi mari berselancar ke dalam isi kepala penulis.


Refleksi Diri Mahasiswa Keguruan

Kritik terhadap guru yang dianggap kurang inovatif dan tidak menyenangkan dalam mengajar sering kali muncul dari mahasiswa keguruan. Mereka dengan vokal mengkritik guru-guru di sekolah, katanya:

    “Metode mengajarnya kuno!”
    “Pembelajaran yang diberikan guru membosankan sekali.”
    “Kok guru banyak yang tidak inovatif, sih.”

Sebagai bagian dari generasi yang melek teknologi, kritik seperti itu memang wajar. Apalagi di tengah perkembangan dunia pendidikan yang mau tidak mau akan terus bergerak, guru memang harus belajar beradaptasi. Namun satu hal yang sering luput dari kacamata para pengkritik: sudah seberapa layak kita menggantikan mereka? Sebelum melontarkan kritik tersebut, penting untuk melakukan refleksi diri: apakah mereka sendiri sudah menunjukkan semangat belajar dan berinovasi?

Ironisnya, kritik terhadap guru yang "tidak berkembang" kerap datang dari mahasiswa yang ternyata masih malas belajar. Mahasiswa yang ketika mengerjakan tugas kuliah selalu diawali dengan pertanyaan:

    “Eh, ada AI yang bisa bantu ngerjain jadi lebih cepat nggak?”

Padahal proses menjadi guru bukan sekadar menguasai materi atau membuat media pembelajaran interaktif. Tapi juga melibatkan kejujuran intelektual, disiplin belajar, dan tanggung jawab terhadap ilmu. Jika kita mengeluh guru tidak memberi pembelajaran bermakna, sementara kita sendiri lebih sering menyalin jawaban dari AI tanpa paham apa-apa, maka sesungguhnya yang stagnan bukan hanya guru—tapi mental calon penggantinya.

Hal ini terasa makin menyakitkan ketika kita masuk musim Ujian Akhir Semester. Ada mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh; 
    Membaca ulang catatan. 
    Menyusun jawaban sendiri.
    Berproses.
Tapi nilainya justru kalah dari teman yang menyelesaikan semuanya menggunakan AI dalam hitungan menit.

Adakalanya mahasiswa yang memilih untuk tetap belajar dengan jujur dan penuh integritas tidak selalu mendapatkan nilai terbaik di kelas. Mereka kalah dari mahasiswa yang memilih jalan pintas—mengandalkan teknologi tanpa memahami, menyalin tanpa berpikir, dan menyelesaikan tanpa melewati proses belajar yang seharusnya. 

    Unggul di skor, tapi rapuh dalam nalar.

Maka jika sistem akademik hanya menilai hasil akhir tanpa mempertimbangkan proses, maka kita sedang mencetak lulusan yang pintar menyalin, bukan lulusan yang siap berpikir. Jika kita ingin dunia pendidikan berubah, maka perubahan itu tidak cukup datang dari ruang kelas, guru. Ia harus dimulai dari kesadaran mahasiswa-mahasiswa penerusnya.

    Ya, kejujuran, proses belajar, dan integritas, seharusnya bukan sekadar slogan kampus, kan?

Kurasa kita akan sepakat bahwa guru yang baik bukan hanya dia yang bisa mengajar dengan metode baru, tapi dia yang mau terus belajar dengan cara yang benar.

Komentar