Aku menyesap kopi, “Iya, kayak orang yang baru bangun tapi udah mikirin kerjaan.”
HAHA aku menyesal mengucapkan kalimat barusan. Ini masih pagi, Nona.
Farhan terkekeh. “Kemarin aku lihat, tiket Jakarta-Bangkok cuma sejuta. Tapi Jakarta-Papua? Dua juta setengah! Lucu banget, ya. Antar negara malah lebih murah dari antarpulau!”
Aku mengerutkan alis. Tiba-tiba sekali dia membahas tiket pesawat. “Kamu baru sadar? Negara ini memang suka jual mahal, kan?”
Farhan menarik napas, “Ironis ya, yang dekat malah terasa jauh. Mungkin pemerintah pengen warga lokal lebih nasionalis, ya. Biar nggak sering jalan-jalan, fokus bayar pajak aja.”
Tepat sekali. “Tapi serius, aneh juga ya. Katanya bangga jadi negeri kepulauan, tapi tiket antar pulau aja kayak mau naik kelas bisnis ke Eropa. Hebat juga romantika kebangsaan model begini.”
Farhan mengangguk. “Kalau mau ke Jayapura harus mikir dua kali. Padahal kalau ke luar negeri, kadang sekalian dapet promo hotel.”
“Ya wajar,” balas Farhan lagi. “Yang dikelola bukan jarak, tapi kesempatan. Selama banyak yang pasrah, harga tetap naik. Sama kayak perasaan, kalau nggak pernah ditawar, ya terus dimahalin.” Ucapnya sambil menyenggol bahuku.
"Kalimat terakhir sepertinya aku harus pura-pura nggak dengar, ya." balasku diselingi tawa.
Farhan ikut tertawa. “Jahat sekali.”
Di kejauhan, suara peluit petugas terdengar. Kereta pertama pagi itu mendekat dengan deru logam yang pelan. Aku melirik jam tanganku.
“Yuk, sebelum harga tiket kereta juga ikut-ikutan kayak tiket pesawat.”
Farhan tersenyum, “Tenang aja. Kalau sampai mahal juga, aku udah siap naik gerobak sapi.”
Pria ini memang kampret.

Komentar
Posting Komentar