Manuskrip; Tiket Penerbangan



Lampu-lampu jalan pinggir peron masih remang, hanya satu dua warung kopi yang sudah menyalakan mesin, menjanjikan kehangatan. Petugas kebersihan sibuk menyapu sisa koran semalam. Sementara burung-burung gereja mulai ribut di kabel listrik. Langit belum sepenuhnya biru, tapi cukup untuk memantulkan cahaya ke genangan kecil di pinggir trotoar.

Aku dan Farhan berjalan pelan di sela-sela aroma bubur ayam dan deru kendaraan ojek yang bersiap menyambut penumpang. Farhan menenteng ranselnya, sementara aku mendekap kopi panas dari warung kopi yang menjanjikan kehangatan tadi.

“Pagi di stasiun tuh selalu punya vibes aneh, ya. Belum ramai, tapi udah hidup,” celetuk Farhan.

Aku menyesap kopi, “Iya, kayak orang yang baru bangun tapi udah mikirin kerjaan.”

HAHA aku menyesal mengucapkan kalimat barusan. Ini masih pagi, Nona.

Farhan terkekeh. “Kemarin aku lihat, tiket Jakarta-Bangkok cuma sejuta. Tapi Jakarta-Papua? Dua juta setengah! Lucu banget, ya. Antar negara malah lebih murah dari antarpulau!”

Aku mengerutkan alis. Tiba-tiba sekali dia membahas tiket pesawat. “Kamu baru sadar? Negara ini memang suka jual mahal, kan?”

Farhan menarik napas, “Ironis ya, yang dekat malah terasa jauh. Mungkin pemerintah pengen warga lokal lebih nasionalis, ya. Biar nggak sering jalan-jalan, fokus bayar pajak aja.

Tepat sekali. “Tapi serius, aneh juga ya. Katanya bangga jadi negeri kepulauan, tapi tiket antar pulau aja kayak mau naik kelas bisnis ke Eropa. Hebat juga romantika kebangsaan model begini.” 

Farhan mengangguk. “Kalau mau ke Jayapura harus mikir dua kali. Padahal kalau ke luar negeri, kadang sekalian dapet promo hotel.”

“Ya wajar,” balas Farhan lagi. “Yang dikelola bukan jarak, tapi kesempatan. Selama banyak yang pasrah, harga tetap naik. Sama kayak perasaan, kalau nggak pernah ditawar, ya terus dimahalin.” Ucapnya sambil menyenggol bahuku.

"Kalimat terakhir sepertinya aku harus pura-pura nggak dengar, ya." balasku diselingi tawa.

Farhan ikut tertawa. “Jahat sekali.”

Di kejauhan, suara peluit petugas terdengar. Kereta pertama pagi itu mendekat dengan deru logam yang pelan. Aku melirik jam tanganku.

“Yuk, sebelum harga tiket kereta juga ikut-ikutan kayak tiket pesawat.”

Farhan tersenyum, “Tenang aja. Kalau sampai mahal juga, aku udah siap naik gerobak sapi.”

Pria ini memang kampret.

Komentar