Kombinasi Favorit



Ia datang kepadaku dengan baju musim semi penuh warna, melukis langitku yang kelam dengan hati-hati,

memberi cerah dan gemerlap

Tuhan, aku tidak tahu jika langitku bisa dimantrai semegah ini.

 

Ia datang tanpa menuntut;

menuang seduhan coklat hangat di cangkir hausku, mengusik gersang yang tertinggal disana bertahun-tahun.

Tuhan, tidak pernah terbayang jika hangat bisa menyihir sepi menjadi meriah ini.

 

Ia meraih rongsokan terakhirku, menyimpan buangan itu dengan bangga seolah ia berharga.

Tuhan, nyaris tak kupercaya bahwa sampah-sampah itu masih bermakna.

 

Ia tidak memintaku membukakan pintu. Ialah pintu yang menyerahkan dunia padaku. Sebab ia tidak pernah buru-buru dalam memujaku.

Tuhan, ia adalah kombinasi warna-warni yang paling kusukai, lebih dari hitam putih favoritku.


Komentar