Kereta yang kami naiki berangkat pukul sebelas malam, tapi suasananya seperti jam pulang kerja. Penuh, gerah, dan melelahkan. Udara dalam gerbong terasa saling berkelit; bau karbol, parfum murahan, dan aroma nasi bungkus bersaing dengan keringat penat. Di sebelah kami, seorang bapak tertidur dengan lelapnya, tidak peduli pada dengung kipas yang sekarat, dan bisik-bisik letih dari kanan-kirinya.
Farhan tersenyum tipis.
“Lihat sekitarmu, Na. Semua orang sibuk dengan kelelahan dan kesibukannya. Gerbong ini rasanya seperti rumah kedua yang menyimpan jutaan kisah.”
Aku mengangguk kecil sambil menatap jendela. Bayangan lampu-lampu stasiun berlalu cepat, seperti kehidupan yang nyaris tidak sempat disalahpahami.
“Kadang aku iri sama mereka yang bisa tidur di mana aja. Mungkin mereka nggak kepikiran berita hari ini.”
Farhan menoleh. “Berita pondok yang ambruk itu?”
Aku membenarkan. “Iya. Dindingnya roboh, katanya karena struktur bangunannya rapuh. Tapi sampai sekarang tidak ada yang benar-benar dituntut. Seolah yang runtuh itu hanya bata, bukan nyawa.”
“Begitulah negeri ini," gumam Farhan. “Mungkin karena tukang, pengawas, dan yang kasih izin sama-sama lulusan sabar, bukan teknik sipil.” Imbuhnya.
“Lucu ya, Na. Di berita malah banyak yang marah ke tim SAR. Katanya mereka lambat. Padahal, mereka yang tidak tidur berhari-hari, cuma buat nyari sisa-sisa hidup di bawah reruntuhan.” Mereka yang paling berjuang.
Aku menatap ke luar jendela. “Kalau aku boleh jujur, aku sedih tapi tidak terlalu kaget. Kita memang hidup di tempat yang lebih cepat menuduh daripada bertanggung jawab. Lebih hormat pada label manusia daripada mengawasi manusianya.”
Kami diam beberapa saat. Deru roda besi di rel terdengar seperti doa-doa panjang yang diucapkan penuh teka-teki.
Farhan lalu berkata pelan, “Tapi pondoknya tetap bagus, loh. Santrinya sopan, pengajian jalan terus. Ironisnya, pesantren yang mengajarkan pondasi hidup, malah kehilangan pondasi bangunannya.”
Mungkin Tuhan sedang menunjukkan, bahwa yang rapuh tidak selalu beton. Kadang, jiwa amanah juga.
Ia menatapku lama. “Kamu selalu punya cara menyindir tanpa terdengar jahat ya, Na.”
Aku balik menatapnya. “Bukan menyindir, Han. Cuma memperhalus amarah saja."
Hening lagi. Lampu kereta meredup. Kami sudah melewati beberapa stasiun kecil.
Farhan menyandarkan kepala ke kursi, lalu bergumam, “Kamu tidak ada niatan menyeriusi tawaranku di museum tadi siang?”
Aku tertawa. “Kau tidak bosan mengulang rengekan itu lagi, Han?”
“Kalau sudah tahu jawabannya tetap sama, mungkin iya. Tapi aku tetap akan bertanya." ucapnya, santai. Mata berbinarnya bertengger mengamati langit-langit gerbong. "Lagipula, aku sudah terlalu tua untuk sok gengsi, Na. Nanggung kalau terus-terusan sungkan dan canggung."
Aku spontan tertawa. Kali ini ia tertawa juga. Untungnya.

Komentar
Posting Komentar