Kembali dan Melepaskan (2)


Ikhlas rupanya memerlukan berbagai perjalanan waktu yang berbelit-belit, ya? Kemarin aku begitu yakin bahwa aku sudah tangguh dan kuat. Namun ternyata ketangguhan itu masih diragukan semesta. Mereka mengujiku dengan mendekatkan sebuah takdir tidak terduga.


Aku berkenalan dengan lelaki yang namanya mirip seperti kamu, Mas. Jika namamu diawali dengan Ahmad, ia diawali dengan Muhammad. Nama panggilan kalian sama, tahi lalat di bawah mata kiri kalian juga sama, bahkan kebiasaan kalian juga sama.

Aku ingat, Mas, saat kamu suka sekali membawa jeruk nipis kemana-mana. Katamu "Nanti waktu beli es teh mau aku kasih perasan jeruk. Lebih segar." Entah skenario macam apa yang Tuhan tuliskan, dia juga sama seperti kamu, Mas. Pertemuan pertama kami dimulai ketika ia sibuk mencari jeruk nipisnya di warung bakso. Rupanya jeruk nipis itu menggelinding ke bawah mejaku. Aku menyerahkan jeruk itu padanya dan ia mengucapkan terima kasih.

Tanpa diduga hari berikutnya kami kembali berpapasan. Kali ini di tangga perpustakaan. Dompetnya jatuh dari lantai 2 dan mendarat di depanku yang berjalan di lantai 1. Saat itulah tanpa sengaja aku tahu namanya. Ia berlari turun lalu kembali mengucapkan terima kasih. Kali ini ia menyapaku dan kami saling berkenalan. Memori soal jeruk nipis di warung bakso itulah yang membuka percakapan kami.

Selang seminggu, kami bertemu lagi. Kali ini di toko barang antik yang sering kamu kunjungi. Ia berdiri di pojok rak baris ke 4 seperti yang biasa kamu lakukan, Mas. Gestur kalian sama. Tangan kanannya saku celana dan tangan kiri mengetuk-ngetuk rak. Persis seperti kamu.

Sejujurnya jika hal ini terjadi di tahun ketiga kepergianmu, mungkin aku akan mengeluh:
"Semesta tega sekali mengajak bermain-main dengan perasaan. Pandai sekali mereka menguliti luka-lukaku."
"Bisa-bisanya takdir mengirimkan manusia yang nyaris seperti kamu saat aku pelan-pelan sudah mengikhlaskan kamu."

Beruntungnya takdir Tuhan memang luar biasa rapi. Tuhan mengirim kloningan dirimu saat hatiku sudah cukup kebal dari sayatan kenangan. Aku sudah cukup mampu berdamai dengan ingatan. Kamu tahu, Mas? Kini aku dan sosok yang mirip denganmu itu berteman baik. Sekalipun semakin lama berkawan membuatku menyadari bahwa kalian luar biasa mirip, namun hal itu tidak lantas membuatku menganggap dia sebagai penggantimu.

Aku menghormatinya dengan cara yang berbeda dari aku menghormati kamu. Dia adalah kawan dan kamu adalah kawan lama. Aku senang menyebutnya dengan penanda waktu "masa kini" dan aku akan menyebutmu dengan "masa lampau". Tidak apa-apa kan, Mas?

Tidak apa-apa kan jika aku benar-benar mengikhlaskanmu?

Komentar