Hari ini aku mendengarkan seorang teman bercerita tentang perjalanan cintanya. Ia bahagia; kekasihnya perhatian, sopan, sabar, tulus, dan melengkapi segala kriteria yang akan membuat para calon mertua mengangguk setuju. Aku turut berbahagia. Namun sepertinya, bukan kebahagiaan itu yang ingin dia ceritakan.
"Kukira, mencintai itu seperti memberi dan menerima rasa aman. Tidak ada keributan. Tidak ada riak-riak kesalahpahaman. Tapi ternyata dalam kisahku tidak demikian."
Aku tidak menimpali apa-apa. Temanku pun melanjutkan cerita.
Katanya dia sedang di titik persimpangan. Ritme percintaanya stabil dan mereka bisa saling meluruskan kesalahan satu sama lain tanpa harus dengan nada tinggi. Mereka kokoh. Namun bagi temanku, ini menggelisahkan.
Menurut hematku, ia rindu dengan kekacauan yang pernah terjadi dengan mantan kekasihnya. Dia rindu pertengkaran. Dia terlalu terbiasa dengan ketidakteraturan. Dia ingin cinta yang berapi-api.
Dan cinta yang diberikan kekasihnya adalah segala bentuk kontradiktif dari semua itu.
Kali ini aku tidak berani terlalu banyak berkomentar. Kurasa porsiku sekarang adalah menyodorkan telinga bukan memberikan menghujaninya dengan nasihat.
"Sepertinya aku hanya terlalu asing dengan cinta yang hebat karena dari cinta sebelumnya aku tidak mendapatkan kemewahan itu."
"Cinta yang sekarang ini juga mengajarkanmu menjadi lebih bijak, ya. Siapa sangka sosok yang dulu mengadukan amarah itu sekarang justru mengeluhkan kedamaian." jawabku.
Ia tertawa, "Ya, begitulah. Siapa sangka."

Komentar
Posting Komentar