Kembali dan Melepaskan (1)


... Dan rupanya tangis-tangis rindu itu sudah berjalan menjelang 6 tahun. Surat-surat yang membingkai tulisanmu kini mulai kusut. Pesan-pesan WhatsApp yang berisi sapaan-sapaan kita kini harus ku-screenshot dan kucadangkan di berbagai email agar tidak lenyap jika sewaktu-waktu WhatsApp-ku terganggu. Surel-surel lawas yang berisi cakap-cakap panjang itu kini tertimbun di kotak masuk paling bawah, tertimbun ratusan pesan-pesan duniawi.

Bagaimana ayah dan ibumu di sana? Sampaikan salam dan terima kasihku pada mereka.
Terima kasih sudah bersedia meminjamkan anak lelaki tersayangnya untuk menjadi kakakku sementara waktu.

***

Omong-omong, aku sudah lebih berani untuk berziarah ke makammu bersama orang lain, Mas. Dulu aku hanya berani datang sendirian. Sebab jika bersama orang lain, rasanya makin sulit menahan desak air mataku.

Aku tidak lagi pura-pura kuat, aku benar-benar kuat. Aku tidak lagi mengusap air mata diam-diam, aku tidak menangis. Aku mendoakanmu dengan ikhlas kali ini, tidak lagi dengan bisik-bisik penyesalan. Jadi, semoga kamu di sana juga berbahagia dengan tenang. Oh ya, tidak perlu mengintip ragu-ragu dalam mimpiku, datanglah dengan percaya diri. Sekarang aku sudah bisa menyambutmu dengan tegar dan layak.

Kamu pasti tahu, Mas. Empat tahun lalu aku masih berkaca-kaca tiap kali mendengarkan instrumen favorit kita. Alunan musik tanpa lirik itu sepertinya selalu berhasil meresonansi ingatanku. Angan yang seharusnya berdiam diri itu justru berlarian ke tahun-tahun pertengkaran kita, lalu meninggalkan sesal di masa kini. Kadang ia menyusup di hari-hari kita tertawa riang namun membuatku kian tersedu-sedu di sini. Lucu memang, jejak bahagia justru semakin membuat sesak dan kisah menyenangkan membuat berkabung semakin mengenaskan.

Aku tidak pandai berdoa dengan khusyuk seperti kamu, Mas. Tapi semoga Yasin dan Fatihahku sampai padamu dengan cara yang indah, ya? Aku juga tidak mahir memilah amalan mana yang paling tepat untuk ruh yang sudah bertamu dan bertemu Tuhan. Namun semoga niat dan iktikad baikku berbuah manis di tempatmu, ya?

Tulisan ini mungkin akan terasa egois karena aku hanya berkisah tentang bagaimana beratnya diriku menjalani enam tahun mengikhlaskan kamu. Padahal selain aku, pasti banyak yang lebih kehilangan kamu. Aku juga sibuk bercerita tentang doa-doaku padahal banyak yang lebih bersungguh-sungguh beribadah agar pahalanya berguguran di langitmu. Maafkan aku. Izinkan aku untuk egois di tulisan ini dan beberapa tulisan lagi, ya?

Aku selalu percaya bahwa setiap manusia memiliki cara dan waktunya sendiri untuk berkabung. Sehari, setahun, sewindu, bahkan ada yang seumur hidup. Aku tidak berniat menangisimu seumur hidup. Namun selagi usiaku masih ada, aku akan mencoba mengingatmu sebaik mungkin dengan ingatan yang penuh ikhlas dan mencatat segalanya dengan syukur. Tidak apa-apa, kan?

***

Komentar