Manuskrip: Perjalanan ke Pulau Seberang


Farhan memandang hamparan tanah tandus di depannya dengan tatapan kosong. Tanah yang luasnya 600 hektar itu dulunya hutan lebat dengan pepohonan rimbun, salah satu bukti bahwa pulau tempat ia hidup ini layak disebut paru-paru dunia. Ya, paru-paru dunia; nama indah yang semesta ilhamkan pada Pulau Seribu Sungai ini karena memiliki wana yang luar biasa luas, 40 juta hektar. Sayangnya 40 juta hektar itu terus digerogoti. Berdasarkan kabar terakhir yang Farhan baca 40 juta hektar itu hanya bersisa 28 juta hektar dalam kurun waktu kurang dari 25 tahun.

Pantas saja dua tahun terakhir ayah kerap melarang diriku pulang saat musim hujan. Ternyata rumah kami tergenang banjir. Batin Farhan.

Omong-omong soal banjir, seingat Farhan desanya dulu hampir tidak pernah banjir sekalipun hujan lebat berhari-hari. Paling parah hanya sampai pada genangan air atau sedikit bibir sungai yang tenggelam.

Bertahun-tahun menimba ilmu di tanah rantau membuatnya terkejut berkali-kali ketika pulang. Hutan tropis yang dulu kerap ia foto kini berubah menjadi persawahan, daerah yang dulu teduh dan rimbun kini panas dan menyengat, dan tanah Pahewan yang begitu dihormati kini diinjak-injak. Mirisnya suara-suara tercekik dari rakyat sekitar nyaris tidak pernah masuk berita. Teriakan penolakan dari para pemangku adat hanya terdengar sayup-sayup.

Para penggede yang matanya menggila itu hanya peduli jumlah digit di rekening mereka.

"Beliau-beliau ini orang yang lembut, tidak tegaan, dan nggak serakah soal duit. Wong beliau sudah kaya sejak lahir kok."

Farhan tertawa terbahak-bahak. Orang berhati lembut mana yang mengancam jurnalis hanya karena mereka melakukan tugas mereka; mewawancarai. Orang "tidak tegaan" mana yang ringan menculik belasan aktivis lalu dengan muka tebalnya melangkah ke kursi jabatan. Orang tidak serakah mana yang menggantung idealisme demi kelancaran bisnis, menjilat musuh kanan-kiri agar licin sana-sini.

Omongan juru kampanye memang manis-manis simalakama.

Tanah tandus tidak terurus di hadapannya ini adalah bukti bahwa kekayaan bukanlah jaminan kejujuran. Banyak yang semakin kaya semakin rakus menyantap apa saja. Banyak yang sekalipun sudah sedemikian berlimpah hartanya masih iri dengan recehan-recehan rakyatnya. Banyak yang sudah memiliki gunungan emas masih ngiler dengan centong berlian. Banyak yang sudah menimbun milyaran beras namun masih lapar memakan muntahan sendiri.

Sejatinya ketidakserakahan bukan berasal dari "Aku dari dulu udah punya banyak" tapi "Sedikit banyak milikku ini sudah lebih dari cukup".

***

"Dari tadi kok diam saja, kenapa?"
Pertanyaan pelanku mengejutkan Farhan.

"Oh nggak apa-apa. Cuma mikir... um, ya gitulah. Macam-macam."

"Jalan-jalan kemana?"

"Rumah, mungkin?"

Aku tidak lagi menanggapi dan kami tidak bercakap-cakap banyak setelah itu. Aku sibuk dengan pikiranku dan Farhan sibuk dengan pikirannya. Aku berkelana ke debat-debat antar calon pemimpin kemarin dan Farhan terbang ke puluhan judul berita politik yang sudah ia tulis setahun ini.

Gulungan ombak yang pecah menemani kami seperti lantunan lagu. Kapal yang terus melaju, angin beraroma air asin, dan bau khas laut rasanya seperti jaket yang memeluk kami dengan nafas-nafas rindu. Sedikit romantis.

"Jangan bosan-bosan menemaniku naik kapal ya." Bisik Farhan. Aku mengangguk "Jangan sungkan mengajakku lain waktu." Jawabku.

Bagi pembaca, isi pikiran Farhan di awal cerita ini mungkin terasa sedikit loncat-loncat dan tidak terstruktur. Maafkan aku. Aku hanya berusaha menuliskan kecamuk yang remuk redam itu sehati-hati mungkin dengan kemampuanku yang apa adanya.
Tentu dengan mengganti beberapa diksi dan menyembunyikan beberapa amarah.

Omong-omong bukankah angan dan kebisingan di kepala manusia juga begitu? Sejenak memikirkan tagihan kartu, tiba-tiba tersesat di deadline pekerjaan yang sisa 18 jam, lalu mendadak terjerat di lembah rendah diri, namun tidak berselang lama berlarian ke langit tawa. Kadang mampir ke ruang sumpah serapah, lalu terlilit di kawah kekecewaan, dan tiba-tiba terpental ke ruang penyesalan.

Benar-benar tidak terduga.


Komentar