Jiwa tampak memelas. Entah ia berpura-pura atau sungguhan Kaori tidak tahu, sebab lelaki ini benar-benar pandai bermain muka.
"Tidak bisakah kamu menanyakan hal-hal seperti itu hanya padaku? Apa istimewanya si pelukis itu sampai-sampai kamu menjadikan dia narasumber utama?"
Kaori menghela nafas. Ia paling tidak suka dengan lelaki ini saat sedang tidak tahu diri, seperti sekarang.
"Menurutmu mengapa beberapa lelaki di sosial media menjadikan perempuan sebagai objek pencapaian dan perhiasan?" Tanya Kaori.
Mata Jiwa sedikit terbelalak. Pertanyaan apa itu? Tiba-tiba sekali.
"Mengapa beberapa lelaki menuntut perempuan menjadi kurus namun harus tetap seksi, menjadi putih namun tidak terlalu pucat, dan menjadi sehat namun tidak terlalu kekar. Mereka marah ketika melihat berita perempuan melakukan reduksi mammoplasty seolah mereka yang kehilangan payudara padahal perempuan melakukan itu demi kesehatan. Mereka tidak suka melihat perempuan memakai make-up seolah-olah mereka ditipu, padahal perempuan melakukan itu untuk mempercantik diri sendiri, bukan untuk menarik hasrat kelaparan para lelaki. Mereka memandang remeh gadis-gadis berbaju seksi seolah mereka dagangan murah, namun diam-diam menyimpan satu persatu foto-foto seksi itu. Mereka menghujat perempuan korban pelecehan seksual dengan alasan pakaian yang terlalu terbuka, seolah para perempuan yang menggoda mereka, padahal merekalah yang tidak pandai menundukkan nafsu di kemaluannya. Mengapa ada beberapa lelaki yang seperti itu?"
Jiwa tidak menjawab. Kepalanya masih terlalu terkejut dengan pertanyaan dan ungkapan beruntun itu.
"Mereka mencibir ibu-ibu yang selesai melahirkan karena tubuhnya bergelambir, katanya tidak pandai merawat diri. Mereka memandang remeh perempuan yang kulitnya gelap karena genetik, seolah menjadi manusia normal adalah kesalahan. Mereka malu memperistri perempuan tidak tamat sekolah namun merasa tersaingi jika ada perempuan berpendidikan tinggi. Mereka enggan memberi banyak nafkah namun meradang jika istri memiliki penghasilan pribadi. Mereka mendambakan istri perawan namun meniduri banyak gadis dengan dalih penasaran. Mereka...-CUKUP! Pekik Jiwa, memutus serangkaian pertanyaan Kaori yang belum selesai.
Ah, padahal masih banyak yang ingin kuucapkan. Batin Kaori.
"Maksud kamu apa bertanya seperti itu? Kamu pikir lelaki makhluk macam apa sampai mengira kami se-menjijikkan itu?"
Kaori tertawa kecil. Rupanya Jiwa menelan umpannya dengan sukarela.
"Kamu tertawa? Kamu pikir pertanyaan kamu tadi lucu?"
"Lihatlah, Jiwa. Ini alasan aku tidak bisa menjadikan kamu narasumber tulisan-tulisanku. Aku bertanya kepada kamu tentang beberapa lelaki di sosial media, tapi kamu memotong pertanyaanku seolah aku bertanya tentang dosa-dosamu."
Jiwa terpaku. Kaori memukul nuraninya tepat sasaran.
Komentar
Posting Komentar