Manuskrip; Koin Baru

Sumber gambar: Geulgram

Selama hampir enam tahun tinggal di perantauan, bertemu Farhan di Ahad sore merupakan satu-satunya kegiatanku yang konsisten. Mulanya kami tidak berniat menjadikan pertemuan itu rutinitas di penghujung pekan. Namun karena satu dan lain hal, tanpa sadar kami saling menyesuaikan jadwal. Lalu lambat laun kami menyengaja agar Ahad sore hingga satu jam sebelum pergantian hari kami bisa bercakap-cakap panjang.

Pertemuan kali ini akulah yang menentukan tempat. Aku memilih untuk bertemu di sebuah taman. Letak taman itu di dekat perempatan pusat kota, cukup strategis namun tidak terlalu bising. Sisi kiri taman terdapat bangunan kuno yang cukup sering dikunjungi turis dan di sisi kanan terdapat universitas teknik yang cukup kenamaan. Tidak jauh dari taman itu ada halte sentral tempat bis-bis dari berbagai penjuru transit.

Jika ingatanku benar, ini sudah kali ke dua belas kami bertemu disini. Di taman ini banyak pedagang kaki lima yang menjual camilan murah, tidak terlalu bising di malam Senin, dan dekat dengan stasiun karena di Senin pagi tiap awal bulan aku harus tiba di Malang untuk urusan pekerjaan.

Farhan datang tepat waktu. Ia berlarian kecil ke arahku setelah memarkirkan motornya. Senyumnya merekah seperti sebelum-sebelumnya. Setelah di depanku, kulihat rambutnya masih setengah basah, kurasa ia baru selesai sholat Ashar. Oh andai kata dia bukan kawan lamaku mungkin aku sudah terpesona.

Sebelum duduk, Farhan meletakkan setumpuk kertas yang di satukan dengan klip di atas meja. Tindakannya seperti memintaku membaca isinya.

Oh ini draf novel.

"Bali, Laut, dan Aku." Begitulah judul yang tertera di lembar terdepan. Halaman selanjutnya terdapat rancangan penulisan dengan daftar tokoh, deskripsi keunikan karakter, ringkasan alur cerita, pokok permasalahan, hasil riset, dll.

Aku mencari-cari nama Aurum dan Kana saat membaca daftar tokoh dan karakter mereka. Namun sampai tokoh terakhir, aku tidak menemukan satupun nama Aurum maupun Kana ーatau setidaknya karakter yang memiliki kemiripan dengan mereka berdua.

Dasar lelaki ini, pembahasan calon novel minggu lalu belum selesai kini sudah mengajukan cerita baru. Hhhh...

Aku melanjutkan membuka halaman-halaman selanjutnya. Tokoh dalam cerita ini cukup banyak dimana tokoh utamanya ada tiga orang; dua lelaki dan satu perempuan. Tokoh pendukungnya terdiri dari empat lelaki dan satu perempuan ーini belum termasuk dengan tokoh-tokoh sampingan yang lain.

Well, ini memang ciri khas tulisan-tulisan Farhan. Ia selalu membuat tokoh utama yang memiliki sahabat karib lebih dari satu.

Ada satu tokoh utama yang menarik perhatianku, Jeeha. Namanya terasa lembut dan hangat saat pertama kali kubaca. Farhan menuliskan satu deskripsi yang ia garis bawahi: sangat peduli pada orang lain dan pandai menempatkan diri namun agak sulit membaca "situasi".

Kubaca keterangan itu dengan agak nyaring. Farhan tertawa.

"Sudah kuduga kamu akan terganggu dengan keterangan ini."

Tentu saja aku terganggu, bagaimana bisa seseorang memiliki karakter yang bertentangan; pandai menempatkan diri namun tidak pandai membaca situasi?! Runtukku.

Farhan mengambil pulpen merahnya dan melingkari satu kata.

"Aku menambah tanda kutip di kata ini."

Oh. "Situasi".

Aku mengangguk pura-pura mengerti. Toh yang perlu kulakukan adalah mengedit naskah lengkapnya, bukan rancangannya.

Tokoh lain yang menarik perhatianku adalah Masao. Dilihat dari namanya lelaki ini pasti berkebangsaan Jepang. Farhan menggambarkan Masao sebagai sosok yang tidak banyak bicara, tidak mudah tertawa, terlihat apatis namun pemerhati yang jeli, dan lebih suka mendengarkan dari pada terlibat percakapan. Wow, ini kulkas tujuh pintu. Namun tentu bukan itu yang paling membuatku tertarik.

Masao adalah kunci terurainya kesalahpahaman dari keseluruhan cerita ini.

Kalimat itulah yang membuatku penasaran dengan Masao. Menurut keterangan dan ringkasan plot, Masao bukanlah tokoh utama, bukan pula tokoh yang sering muncul. Lalu bagaimana bisa lelaki ini menjadi alasan konflik utama selesai?

"Oke ini cukup padat, meskipun sedikit menyebalkan." Ucapku kepada Farhan. Ia mengangguk lalu menyodorkan semangkuk bakso yang entah kapan ia pesan.

"Kenapa menyebalkan?"

"Dua tokoh utama bersatu di pertengahan cerita. Ini adalah hal yang paling membuat pembaca cemas."

"Kenapa begitu?"

"Biasanya tokoh utama bersatu di akhir cerita sebagai klimaks dan closure. Jika mereka bersatu di tengah cerita itu berarti ada permasalahan besar di belakang yang memberi kemungkinan dua tokoh tersebut berpisah, salah satu mati, dua-duanya mati, atau bahkan saling membunuh. Tipikal cerita sad ending yang membuat pembaca menangis berhari-hari."

Pembaca selalu takut menyaksikan kematian tokoh-tokoh fiksi mereka.

"Jangan khawatir, ini bukan tentang kematian."

Farhan menengguk tetes terakhir es tehnya.

"Ini tentang penerimaan dan rendah hati." Tambahnya.

"Omong-omong bagaimana kuliah S2-mu? Ada kendala?" Tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.

Meskipun tahu bahwa pria ini sedang berusaha mengganti topik pembicaraan, aku memilih menanggapi.

"Cukup melelahkan tapi aku baik-baik saja."

Lalu cerita-cerita kami pun saling mengalir, meninggalkan sejenak akhir mencurigakan dari naskah yang baru saja kami bahas. Meski begitu, aku selalu percaya bahwa Farhan akan menciptakan cerita-cerita menawan lebih dari imajinasiku.


to be continued 

Komentar