Kelahiran Tokoh Fiksi

"Dia tokoh fiksi atau nyata?"

Itu adalah pertanyaan yang paling sering kudapatkan ketika mengenalkan sosok baru. Pertanyaan yang lebih banyak kujawab dengan tawa ramah lalu diam-diam mengalihkan pembicaraan.

Sesekali ada beberapa penanya yang pura-pura terkecoh namun tatapan mereka menelisik, penasaran, tidak jarang pula ada setitik kecurigaan. Orang-orang yang berpura-pura terkecoh ini adalah manusia-manusia baik yang paling banyak mendengarkan dan melihat prosesku menyusun satu demi satu sifat hingga lahirlah Theo, Yasha-Yusha, Bram, Faiz, Aaron, Kana, Jiwa, Bara, Jeeha, Masao, Farhan, dan Haga; para lelaki dengan kombinasi berbeda-beda yang selalu kuselipkan banyak sisi manusiawi.

Oh, sepertinya aku memiliki kecenderungan menamai para lelaki itu dengan huruf vokal "a". Jadi mari kita rahasiakan dulu nama-nama lelaki yang lain karena suasana membaca teks ini akan menjadi aneh jika seluruh kata-katanya didominasi huruf a.

Omong-omong selamat Theo, kamu satu-satunya yang bebas dari preferensi anehku! Haha.

***

Nama-nama tadi lahir dengan cara berbeda-beda. Ada yang begitu tercipta langsung memiliki cerita utuh dari awal hingga akhir, seperti Kana dan Faiz. Bagiku mereka seperti sebuah dosa, terlalu buruk untuk dipilih namun terlalu menggiurkan jika diabaikan.

Ada tokoh yang tidak bernama sejak cerita dituliskan lalu tanpa sengaja, di pertengahan cerita, muncul huruf-huruf yang cocok dengan mereka. Ialah Yasha-Yusha, Bara, dan Bram. Empat orang ini dapat kuandaikan seperti matcha; pahit, tajam, dan sedikit manis.

Ada pula nama yang lahir karena hasrat ingin mengabadikan karakter seseorang namun aku tidak ingin terlalu blak-blakan menuliskan itu. Mereka adalah Jeeha, Farhan, dan Masao. Bagiku mereka seperti seorang adik yang beranjak dewasa, meskipun di kemudian hari mereka menjadi sangat berbeda dengan rencana awalku, haha.
Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya Kana juga masuk dalam kategori ini.

Untuk Theo, Aaron, dan Jiwa, mereka muncul secara impulsif. Beberapa dari kalian mungkin menyadari bahwa aku terbiasa menulis cerita dari sudut pandang orang pertama tunggal. Nah, Theo, Aaron, dan Jiwa adalah nama yang muncul tiba-tiba ketika aku memasukkan sosok lelaki dalam cerita itu. Hm, sepertinya nama ini cocok dengan pembawaan si tokoh lelaki. Begitu.

Terakhir Haga, dia satu-satunya yang paling tidak ingin kusatukan dengan Jeeha namun akhirnya bertemu di "Bali, Laut, dan Aku." Haga lahir jauh sebelum "Bali, Laut, dan Aku" ditulis, namun baru berani kuletakkan dalam sebuah cerita sekitar tahun lalu. Haga adalah nama yang menyembunyikan banyak rasa; rindu, kagum, belas kasihan, sesal, dan perasaan-perasaan lain yang sulit kuceritakan. Dikepalaku dia seperti sekumpulan luka yang menonjol namun membentuk lukisan mempesona.

Omong-omong seandainya nama-nama itu adalah tanaman, maka Kana-lah yang akan paling sering kusirami lalu disusul dengan Bara, Bram, dan Jiwa. Mereka terlalu kering dan tandus dibandingkan tanaman lain.

Masao akan menjadi satu-satunya tanaman yang paling mudah dirawat. Lalu Yasha-Yusha dan Jeeha adalah tanaman yang memiliki daun-daun cantik melebihi kecantikan bunga mereka. 

Sementara Farhan dan Haga adalah tanaman yang memiliki akar paling kuat dan kokoh. Tidak lupa Theo, Faiz, dan Aaron, mereka adalah tanaman yang entah mengapa selalu berbunga namun tidak pernah mekar secara utuh.

"Lalu tanaman mana yang menjadi favoritmu?" Tentu saja aku tidak akan memilih siapapun. Konon katanya kecenderungan akan selalu ada namun tidak boleh mempengaruhi keadilan.

Aku mencintai mereka semua sebaik aku mencintai setiap cerita yang kutulis, seburuk dan se-kacau apapun cerita itu.

Jadi jika kembali ke pertanyaan awal apakah mereka fiksi atau tanya, kalian sudah bisa menyimpulkannya, kan?

Tapi bukankah fiksi atau nyatanya suatu tokoh hanya bisa dilihat jika sudah membaca keseluruhan ceritanya?

Komentar