Manuskrip; Pembuka



Jika kebanyakan orang tidak menyukai hari Senin, maka Farhan sebaliknya. Senin menempati peringkat kedua favoritnya dari tujuh hari yang terus berotasi itu. Katanya, Senin membuat raganya menggila. Sensasi kegilaan yang sama dengan saat ia membaca kembali tulisan-tulisan lamanya. Kebetulan sekali malam Senin ini ia memiliki banyak waktunya luang. "Kita ketemu di tempat biasa, ya? Temani aku menyortir tulisan-tulisan lamaku." Ajaknya.

Ingin rasanya aku menolak, sisa lelahku bepergian siang tadi belum hilang. Pegal-pegal karena berdiri berjam-ham di bis kota masih tertinggal di punggungku.

Farhan menatapku dengan sinar kelap-kelip di matanya. Ya, harus kuakui, aku lemah dengan tatapan berbinarnya itu.

"Oke."
Argh, aku menyetujui ajakannya lagi!

Aku duduk berseberangan dengan Farhan yang menghadap laptop dengan serius. Sepertinya ia sedang membongkar berkas-berkas lamanya. Berkas-berkas yang ia yakini memiliki banyak susunan kalimat menggelikan, berkas-berkas yang aku yakini mungkin sudah lapuk jika Al-Khawarizmi tidak menemukan algoritma -cikal-bakal ilmu komputer- di tahun 830 M lalu.

Suara ctak-ctik dari tetikus Farhan tiba-tiba terhenti. Alisnya berkerut disusul matanya yang menyipit. Oh sepertinya tulisan menggelikan itu akhirnya ditemukan. Setelah beberapa menit berlalu, Farhan memutar laptopnya hingga layarnya menghadapku.

Terpampang sebuah tulisan berjudul "Kewarasanku yang Tanggal", kulihat layar dan retinanya bergantian. Sorot matanya memberi isyarat padaku untuk membaca kalimat demi kalimat di layar itu.

Kewarasanku yang Tanggal

Di istana kecil dalam kepala,
suatu nama tertulis tanpa sengaja
Di bawah cahaya kota yang runtuh,
doa-doa mengintip rapuh

Aku terbangun di tengah malam
Berharap kamus berbagai bahasa
mampu menerjemahkan;
"Oh, kau! Mengapa saat kau tinggal,
justru kewarasanku yang tanggal?!"

Pintu ditutup rapat-rapat
Tampak seperti angkuh yang dirawat
Tapi bukan
Ia hanya menyelamatkan diri dari bencana
dibanding membuka namun harus melubangi diri
dengan bedil bernama sia-sia

Aku selalu berusaha meyakinkan diriku, Duhai kau.
Bahwa pergimu bukan sepenuhnya kesalahan lelaki liar itu.
Ini memang aku yang tidak berhati-hati,
semudah itu dibodohi gadis mata keranjang sepertimu.

Aku tersenyum, aku tahu dan kenal persis siapa gadis mata keranjang itu. Fakta bahwa Farhan menunjukkannya padaku, kurasa ia tidak lagi rendah diri perkara kejadian itu. "Tulisan ini dan tulisan-tulisan lamamu yang lain, boleh kukenalkan pada beberapa kawan?" Tanyaku. Farhan tersenyum.

"Boleh. Tapi aku ingin judul tertentu untuk tulisan-tulisan itu."

"Katakan saja, aku bisa kabulkan."

"Manuskrip."
Rupanya Farhan memang perpaduan sempurna soal keindahan.

"Itu unik. Aku suka."


Oleh: NSQAP
Gambar; Geulgram



Komentar