Aku bertanya-tanya apa yang membuat Farhan melirik pintu masuk berkali-kali. Ia bercakap-cakap denganku namun ketenangannya seperti tertinggal di parkiran depan kafe. Matanya sibuk; berpindah-pindah dari jam yang tergantung di sisi kanannya, aku, dan jalanan di luar yang sepi lalu lalang.
"Kita hari ini punya tamu." Ucapnya.
Oh pantas saja. Batinku.
Tiga puluh menit berlalu dan kini dua orang asing duduk di seberangku. Satu di sisi kanan Farhan dan satu lainnya di sisi kiri.
"Ini Aurum dan ini Kana." Farhan mengenalkan dua orang itu padaku.
Kana tampak seperti seseorang yang dipaksa datang ke acara yang ia benci, namun akhirnya setuju karena Aurum ikut hadir. Sedangkan Aurum lebih mirip seperti aku; tidak kuasa menolak karena Farhan yang memohon.
Aku tersenyum kecil lalu menjabat tangan keduanya secara bergantian.
Waktu berjalan, tanpa sadar aku menikmati percakapan di antara mereka bertiga. Hawa dingin di sekeliling Kana tampak menguap, gelak tawa Farhan terdengar renyah dan tulus, serta raut serius di wajah Aurum kian memudar. Kombinasi tiga sekawan yang membangkitkan berbagai imajinasi di kepalaku.
Kana dan Aurum pulang saat matahari hampir terbenam. Kini tersisa Farhan di depanku.
"Jadi, kenapa kamu mengundang mereka?"
Farhan membenarkan duduknya "Mereka berdua menyenangkan, bukan? Aku pernah menuliskan tentang mereka kurang lebih tiga tahun lalu. Berkasnya tersimpan bersama dengan berkas tulisan kemarin; Kewarasanku yang Tanggal."
"Tulisan itu hanya tentang mereka berdua?"
Farhan mengangguk lalu menyodorkan laptopnya padaku. "Ini"
"Kamu kemarin jelas-jelas memaksaku kemari. Lalu mengapa sekarang kamu menghalangiku, Bangsat!"
"Oh wow. Sumpah serapah di awal paragraf." celetukku.
"Baca dulu sampai akhir, komentarnya nanti." Gerutu Farhan, haha dia malu.
Tulisan yang mengisahkan tentang Kana dan Aurum ini sebenarnya menarik. Namun entah mengapa, bagiku, ada kekosongan; tidak sepadat perbincangan yang kusaksikan tadi. Farhan seperti menyembunyikan sesuatu sekaligus ingin bersembunyi dalam paragraf-paragrafnya. Ia tidak sejujur tulisan-tulisannya yang lain.
Farhan menatapku harap-harap cemas setelah kukembalikan laptopnya.
"Bagaimana?"
"Menarik." Jawabku.
"Itu saja?"
"Ya, hanya menarik."
Farhan mencondongkan badannya padaku, menuntut penjelasan lebih.
"Kisah mereka berdua memang menarik, namun tidak membuatku penasaran. Mereka hanya dua orang yang saling mengenal dan bergantung satu sama lain, seperti friends to lovers trope di buku-buku yang pernah kamu suguhkan padaku."
"Lalu bagaimana caranya supaya cerita mereka menjadi menarik?" Akhirnya pertanyaan yang kutunggu-tunggu terlontar.
"Tulis mereka sebagai fiksi dan tambahkan satu tokoh utama lagi."
"Ow, oke. Tokoh seperti apa yang sebaiknya aku munculkan?"
"Tokoh yang sama persis dengan dirimu."
Oleh NSQAP,
Gambar: Geulgram

Komentar
Posting Komentar