“Aku tahu aku melupakanmu, tapi aku tidak
kehilangan emosi tentang kamu.”
Aku terdiam, air mata yang mendesak lebih mendominasi
dibandingkan bibir yang berebut menjawab ucapan itu.
“Aku paham aku amnesia, tapi aku sadar bahwa
kamu sampai saat ini masih istimewa meskipun aku tak mengingat apa pun.”
Mataku memerah, begitu pun dia.
“Bertahanlah di sini. Bukan untuk ingatanku,
tapi untuk melengkapi terima kasihku.”
Ia memintaku, untuk pertama kalinya.
“Maafkan aku, aku bukan perempuan sebaik itu. Aku tidak
bisa berjuang di jalan seperti ini.”
Aku pergi, meninggalkan sosoknya di belakang punggungku.
“Tidak bisakah sekali saja perjuangkan
kebahagiaanmu?! Tidak bisakah sekali saja berhenti peduli dengan luka orang
lain?! Tidak bisakah berhenti merasa bersalah dengan orang yang tak pernah
peduli pada sakit hatimu?! Tidak bisakah berhenti menjadikan dirimu makhluk
paling jahat di hadapanku?! Berhentilah membohongi diri sendiri! Berhentilah
berkorban! Bertahanlah disisiku!”
Teriakan.
“Kau butuh aku, pun sebaliknya! Mengapa kita
harus berbohong pada keinginan kita masing-masing?! Sampai kapan kita terluka
seperti ini?! Mengapa setelah kita berbagi semesta harus berbagi neraka juga?!”
Konspirasi macam apa yang sedang dimainkan takdir.
Telingaku cukup terkejut mendengarkan teriakan yang lancar keluar dari
bibirnya.
“Aku tak pernah memintamu bertahan, tapi kau
selalu tinggal. Lalu mengapa sat aku memintamu tetap di sini, kau enggan tetap
tinggal?!”
Aku hening, masih memunggungi.
“Baiklah. Pergilah. Pergilah tanpa penyesalan!
Jangan kembali! Rawat saja rasa bersalahmu yang mengakar tanpa ampun itu! Tinggalkan
saja semuanya demi kebahagiaan orang lain itu! Pergi! Pergi!”
Tangis luruh dari sepasang mata kita yang berbohong pada
kalimat-kalimat menyakitkan. Aku berbalik, merengkuh seluruh ragamu dalam pandangan
nanar berjarak lima meter.
“Temui aku jika teriakanmu sudah tak berintonasi tinggi,
aku akan menunggu”
Kuputar langkahku segera, menghindari tatapanmu juga
derai mataku yang berlomba menjatuhkan hujan tiba-tiba.
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah...
Aku terhenti.
Lingkar tanganmu melingkupi bahuku. Kita
membeku. Entah kamu yang bergerak di luar kendali atau jantungku yang kehilangan
cara berdebar perlahan. Kau biarkan aku menyusun tanya di kepala.
“Aku bisa lebih gila dari ini jika untuk
memperjuangkanmu. Tinggallah di rumahku, cincin yang belum terpasang di jari
manismu sudah mendapat restu dari ayah dan ibundamu.”
Terkejut, lebih dari sekadar membeku. Kita mendadak
berhadapan, kau dekap aku tanpa permisi, meninggalkan tanya beruntun yang sulit
kumaknai.
“Aku mencintaimu, seluruhnya.”
Kututup laptopku dengan hembusan nafas panjang. Kisah berantakan bertanda November 2019 itu rupanya hanya fiksi yang bermain-main di kepalaku. Dua sosok "Kita" itu hanyalah angan-angan paling sembrono yang mampir di harapanku. Pada akhirnya, "Aku" dan "Kamu" menjadi bahagia hanya dalam cerita.
Omong-omong, apa kabar kamu sekarang?

Komentar
Posting Komentar