Yang di Bungkam



Ada senandung yang tak lagi kutemukan dari lagu kenegaraan yang berkali-kali kudengar
Dialah keadilan dan moralitas pemimpin negara
Tak lupa fondasi agama yang berasaskan 'Tuhan yang Esa'
Aduhai, kau kemanakan nurani kemanusiaan yang dulu kau gembor-gemborkan, wahai para menyambung lidah rakyat yang kerap menabung lelap di meja rapat?

Tulisan ini sebatas keluhan, sebuah teriakan yang tak pernah sanggup disuarakan. Pada mereka yang mengatakan "Negara kita adalah tanah surga", namun menodainya dengan bara neraka. Ya, bara neraka. Sebuah kubangan api bernama korupsi, kolusi, kepentingan pribadi, juga politisi yang tak malu memperkaya diri dengan mengebiri hak penduduk negeri.

Ah, tahu apa aku tentang perpolitikan. Sebatas pembaca keadaan yang kerap disebut si pengkritik negara tanpa tahu realitas dan terlalu percaya pada media, katanya. Haha. Baiklah, suaraku kembali ditumpulkan. Mereka membuka forum yang katanya untuk perbaikan, namun yang mereka harapkan sejatinya adalah pujian tanpa mau menerima saran dan kritikan. Terima kasih Tuhan, kau lahirkan aku di negeri yang memang benar-benar serba kaya. Tak hanya alam, suku, ras, dan budayanya, namun juga kemajemukan tingkah para negarawan. Disini aku banyak belajar, di generasiku jangan ada lagi kepentingan pribadi berkedok agama yang dengan bangga dipublikasi di halaman-halaman media.

Oleh NSQAP
Gambar: Geulgram

Komentar