Diujung masa yang awal dan rawan, diksi baru yang tercipta dengan ragu-ragu
Dekapan empat musim yang berteduh di langit sepertinya tak kunjung menuang inspirasi di kepala Bahasa cuaca yang menelan basah pun tak juga memunculkan kuntum puisi
Hamparan kertas dengan teguh terlelap di atas meja
Sabit yang berbagi cahaya di persimpangan malam tak kunjung mencerahkan ruang diksi
Sabit yang berbagi cahaya di persimpangan malam tak kunjung mencerahkan ruang diksi
Sejak-sajak redup di semesta bahasa
Jemari lentik yang biasanya memfatwakan puing restu pada serat kayu yang asik bertebaran, justru punah tertelan kemustahilan
Kata bermakna, raib tanpa tanda
Mengais sastra mendadak menjadi kekangan dengan bisikan "enggan" yang berkicau di ujung lidah
Hingga pelepah-pelepah menunduk membahasakan tuanya ia bersajak di kaki bumi, logika tak pernah sanggup meraih apa yang ia hilangkan, tak jua menemukan apa yang ia lepaskan
Ada yang lenyap, bukan barang bukan pula seseorang
Jemari lentik yang biasanya memfatwakan puing restu pada serat kayu yang asik bertebaran, justru punah tertelan kemustahilan
Kata bermakna, raib tanpa tanda
Mengais sastra mendadak menjadi kekangan dengan bisikan "enggan" yang berkicau di ujung lidah
Hingga pelepah-pelepah menunduk membahasakan tuanya ia bersajak di kaki bumi, logika tak pernah sanggup meraih apa yang ia hilangkan, tak jua menemukan apa yang ia lepaskan
Ada yang lenyap, bukan barang bukan pula seseorang
Oleh NSQAP
Gambar: Geulgram

Komentar
Posting Komentar